Idola Cilik, semakin dewasa jadinya

Baru kemarin gw akhirnya berhasil menonton acara yang bertajuk Idola Cilik di salah satu televisi swasta. Setelah berhasil diracuni ama nyokap, kakak, dan pacar sendiri. Agak males juga ngeliat anak2 kecil yang bermimpi menjadi artis dengan mengikuti konsep ‘idol’!

Cuma akhirnya dengan berat hati akhirnya gw nonton juga. Oke menit pertama, gw diberikan introduksi dulu dari penonton yang setia yaitu nyokap dan kakak gw. Setelah itu gw juga mendapatkan sedikit tutorial kira-kira kontestan mana yang patut untuk dijagokan dalam ajang ini dari pacar gw. Setelah gw menonton hampir keseluruhan acara akhirnya mata gw mulai sembab dan berat dikarenakan mengantuk. Selain itu gw jadi sedikit berargumentasi dengan beberapa penonton setia acara tersebut.

Gw berpendapat bahwa acara ini sebenarnya agak tidak patut untuk disiarkan secara nasional dan sekaligus tidak mendidik anak-anak Indonesia. Alasannya adalah gw kurang setuju atas menamakan unsur drama anak-anak menjadi aset hiburan dan bisnis. Liat aja pada salah satu kotestan yang memang kebetulan dia adalah orang yang tidak mampu dan orang tuanya berharap bahwa melalui ajang ini sang anak akan mendapatkan hadiah utama dari ajang ini dan membantu perekonomian keluarganya. Menurut gw tidak seharusnya anak-anak usia 7-14 tahun yang menjadi target audiens acara ini menikmati keharubiruan dari drama kehidupan.

Dan tampaknya hal ini yang menjadi pusat keprihatinan gw selama menonton acara ini, kenapa semua lagunya berasal dari lagu top 40 remaja?? Sebutlah Nidji, Samsons, The Rock, bahkan sampai ada beberapa lagu cinta populer yang dijadiin pilihan adik2 manis kontestan ini. Luar biasa?

Padahal jaman gw seumuran bgtu, gw taunya cuma lagu “AKU SEORANG KAPITEN”. Bahkan lagu itu selalu menjadi lagu pamungkas kalo gw disuruh nyanyi didepan kelas, gw nyanyikan lagu itu dengan gagah berani dan lengkap dengan koreografinya!

Tapi mungkin ini akibat dari semakin lajunya arus informasi, dimana setiap tv dan industri musik terlalu sibuk buat nyiarin acara2 musik yang targetnya adalah remaja dan dewasa. Sehingga anak2 sekarang lebih kadung menyukai lagu top 40 dibandingkan lagu anak2 populer. Atau mungkin lagu2 anak populer sekarang agak kurang bernilai dari segi skill bernyanyi?! Coba deh bayangin jaman dulu, ingetlah waktu jaman Melisa ‘Abang Tukang Baso’, atau Cikita Meidy ‘cit..cit..cuit’! Masya Alloh, kalo diinget-inget lagi agak lucu juga karena mereka nyanyinya tanpa penghayatan dan datar ‘abis’! Tapi yang menjadi nilai positifnya adalah lagu-lagu itu mempunyai nilai positif terhadap perkembangan mental anak2 kecil. Dibandingkan dengan anak2 kecil yang menyanyikan lagu cinta? hehehe, konyol aja!

Dampaknya yang mungkin terjadi bahwa anak-anak kecil kita sudah dijejali dengan materi lagu cinta ataupun lagu2 dewasa adalah biar nanti dewasanya mereka sudah biasa mengalami penderitaan cinta dan terus menerus terpuruk dalam cinta. Hehhe.. ga jelaas!

6 comments Mei 1, 2008

in Memoriam of Web 2.0

Sdanya indikasi bahwa pemerintah RI akan melarang beberapa situs-situs yang bisa menampung file-file multimedia tampaknya sudah semakin membuat kepala dan leher gue pegel-pegel akhir minggu ini. Hal ini tentu aja berdampak pada banyak hal selain dampak sosial yang kemungkinan besar terjadi yaitu “SALAH SATU UPAYA PEMBODOHAN MASYARAKAT”.

Dan parahnya pemerintah Indonesia yang semakin menjurus ke arah puritan keputihan ini semakin menjadi-jadi dengan menganggap beberapa situs seprti youtube, multiply, dan myspace sebagai salah satu pusat penyebaran pornografi dan film FITNA yang sekarang sedang gempar untuk dicekal.

Kalau dilihat dari beberapa sudut pandang, memang keputusan ini tidak salah. Tapi gue melihat ada beberapa pandangan yang dilupakan pemerintahan kita. Dimana jaman sudah berubah 180 derajat sekarang ini, teknologi khusunya teknologi informatika merupakan salah satu sendi pembentuk kemasyarakatan budaya modern.

Kalau kita hanya melihat dari sudut pandang ingin melakukan ‘filterisasi’ terhadap konten pornografi yang meresahkan masyarakat. Mungkin timbulnya kebijakan ini merupakan salah satu langkah terbesar yang pernah dilakukan negara berkembang di dunia. Mungkin satu-satunya! Tapi kita harus ingat, pornografi atau istilah cybersex tidak hanya terpusat pada situs-situs penyedia layanan seks di internet. Tapi inget juga bahwa pornografi menyebar lewat salah satu fasilitas internet, yaitu email dan fasilitas messanging.

Bahkan sekarangpun ada beberapa mailing list yang digunakan untuk sarana penyebaran pornografi!

Lalu apa tanggapan pemerintaH? Melakukan blokir terhadap fasilitas mailing list juga? Kalau memang fasilitas ini sampai di blok juga, ini adalah suatu kebijakan pembodohan masyarakat. Seharusnya yang kita lakukan adalah edukasi masyarakat Indonesia, kenapa? ini sama dengan pemikiran kebijakan sensor yang sedang diperjuangkan oleh masyarakat film Indonesia, dimana lembaga sensor film seharusnya menerapkan rating bukan memotong film.

Hal ini harusnya juga berlaku pada kebijakan IT ini, dimana masyarakat seharusnya diberikan edukasi bahwa pornografi itu merusak anak2 kita. Dan peran para orang tua lah yang sangat penting dan tidak perlu sampai pemerintah turun tangan bukan?

Haaaahhh, aneh2 aja emang negara ini

Add comment April 6, 2008

Me Vs UU IT

Sebenernya agak lucu juga negara tercinta kita ini. Setelah RUU APP yang tak kunjung habis diperdebatkan! Sekarang lagi-lagi DPR menawarkan suatu rancangan UU yang menyangkut pembatasan akses situs porno..

Kebijakan yang sangat bermoral sekali bukan?! Tapi disini letak kelucuannya, untuk apa kita buang-buang uang untuk membuat UU tersebut. Dengan alasan peduli terhadap kebajikan moral anak-anak kita? Sepertinya memang benar apa yang dikatakan orang-orang terhadap pemerintahan Indonesia. Entah kenapa kita selalu ingin selangkah lebih maju dibandingkan negara tetangga lainnya? Entah kenapa kita selalu mempunyai peraturan yang lebih hebat dibandingkan negara2 lain? Dan mengapa kita selalu berlagak menjadi negara yang di pandang mempunyai nilai moral yang tinggi padahal masyarakatnya tidak seperti itu?

Poin dari UU IT ini adalah adanya pembatasan bahkan pemblokiran akses untuk melakukan atau membuka situs yang berbau porno. Okelah kalau itu memang diharamkan untuk anak2 kecil dibawah umur? Tapi apa karena moral dan etika, arus kebebasan informasi harus dikorbankan secara sepihak? Sudah jelas UU ini seperti memputihkan ‘nilai’ DPR di mata masyarakat ataupun agama tertentu.

Tapi jelas rancangan UU ini tidak kena sasaran.. Kalau memang mau memperbaiki moral masyarakat bangsa, seharusnya kita yang diberikan edukasi. Edukasi dalam hal ini adalah edukasi pengguna internet di Indonesia. Sejauh gw belajar IT banyak sekali piranti lunak yang disediakan alias dijual secara legal atau bajakan untuk menangkal situs2 ‘nakal’ hanya dengan dua sampai tiga kali klik. Dan software sangatlah efektif tentunya.

Tapi kalaupun UU ini memang benar akan disahkan, kita tidak lebih dari Cina. yang mencoba mengekang masyarakatnya dengan mengeluarkan UU untuk mengekang akses internet dari masyarakatnya.

1 comment Maret 30, 2008

A short story of Britney Spears! Its Britneys B*tch!!

Britney spears… hmm, entah apalagi sekarang? Gue salah satu orang yang sangat prihatin dengan keadaan The ‘Bitches’ American Sweetheart yang satu ini. Walaupun dari beberapa kejadian sebelumnya sudah sangat memilukan mata gue, seperti pembotakan kepalanya, memburuknya kualitas keartisannya, sampai berita betapa depresinya dia dengan kehidupannya sekarang!

Agak sakit juga untuk melihat dan mendengar cerita yang dialami britney spears dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Tapi ternyata keprihatinan gue bertambah ketika salah satu channel TV menayangkan kisah hidup artis ini dari mulai masa kecilnya sampai dengan periode setahun terakhir.

Menurut gue dia adalah salah satu artis yang seharusnya sudah bunuh diri dengan cara2 yang menyedihkan beberapa tahun atau bulan kemarin. Kisahnya masa kecilnya memang sudah parah, dari kecil dia sudah dihadapkan dengan penderitaan dan paksaan kemauan ortu untuk menjadi artis. Lalu ditambah dengan perceraian kedua orang tuanya.

Berangkat remaja, britney spears dibentuk oleh industri untuk terus menjadi ikon remaja putri ‘baik-baik’ melalui beberapa album awalnya. Seterusnya britney terus menerus diterjang secara brutal oleh media, keartisan, dan industri musik. Terus merasa ditinggalkan rasanya sudah menjadi menu wajib dalam setiap lipatan umurnya! Ironis… Menyedihkan…

Entah apalagi sekarang Britney?

Add comment Maret 16, 2008

Lagi-lagi industri musik Indonesia, mau kemana sebenarnya?

Agaknya isu seperti ini memang sudah basi untuk dibicarakan berulang-ulang. Setelah bergesernya tren konsumen untuk menikmati musik, dari yang awalnya fisik seperti kaset dan CD menjadi format digital seperti mp3 dan Ring Back Tone (RBT), ternyata hanyalah setetes embun di pagi hari yang mungkin akan hilang.

Konsep menyedihkan tampaknya memang cocok untuk menggambarkan apa yang kita alami sekarang. Meningkatnya bajakan tetap menjadi isu utama dalam industri rekaman dan musik di Indonesia (bahkan mungkin di dunia), lalu berkembangnya teknologi selalu menjadi momok bagi permusikan di seluruh dunia. Kondisi Indonesia memang tidak sama seperti keadaan di Amerika dan Inggris, dimana di kedua negara tersebut industri musik nya mulai memasyarakatkan tradisi musik digital legal dan ’sopan’, serta sumber pemasukan terbesar digenjot dari konser dan merchandise artis/band (yang asli juga tentunya).

Bagaimana dengan di Indonesia?

Konser? Tidak akan mungkin menyelamatkan! Masih buruknya mentalitas seluruh aspek dalam bisnis ‘EO’, penonton, dan aparat masih menjadi trisula maut untuk disalahkan dalam buruknya keadaan bisnis konser musik di Indonesia. Bahkan sekrang diperparah dengan masuknya sponsor utama yang membuat konser menjadi gratis. Dan belakangan konsep konser gratis ini menjadi marak di Jakarta. Buruknya mentalitas penonton terlihat di beberapa konser dengan sukses mereka menciptakan kerusuhan, tindakan vandalis, ataupun ’sok-sok’an keren dengan berhasil menerobos atau melanggar peraturan. Yang kedua adalah aparat yang dinilai kurang tanggap dengan kerusuhan atau pelanggaran keamanan di setiap konser. Yha bagaimana mau tanggap kalau jumlah satuan yang diturunkan lebih sedikit dibandingkan jumlah penonton yang hadir? Dan tampaknya teori politik yang mengatakan bahwa masyarakat-lah yang mengatur sesuatu peraturan terlihat ada benarnya disini! Kekuatan massa jauh lebih besar dibandingkan kekuatan para aparat. Dan hasilnya adalah adanya ‘Gap’ antara dua kekuatan tersebut. Ketiga buruknya sikap EO terkadang juga berdampak pada penonton dan sikap aparat terhadap penonton. Rasa ‘Greed’ untuk dapat lebih harus dibayar dengan kurangnya perhatian panitia terhadap kesiapan venue, keamanan penonton, dan kualitas sound.

Lalu bagaimana dengan penjualan digital dan merchandise dari artis? Yah, itu cuma sebagai bahan becandaan aja. Kurangnya edukasi konsumen Indonesia terhadap pembelian musik digital legal masih kurang, karena masalah harga dan pilihan artis yang dapat di download. Ditambah lagi, menurut salah satu dosen Marketing di Bina Nusantara Business School, maraknya pembajakan turut berperan besar dengan bertambah parahnya mental konsumen untuk membeli barang yang hanya didasarkan pada best cost atau dengan harga termurah. Begitu pun juga dengan merchandise, di lapak2 toko kaki5 banyak banget yang menjajakan merchandise konser atau salah satu artis tertentu dengan harga yang sangat murah.

Mengerikan?! sekaligus menyedihkan…

Bagaimana menyelamatkannya? tugas kita kah?

1 comment Maret 15, 2008

Java Jazz 2008 Sunday Report!

9 Maret 2008 bisa dibilang merupakan java jazz yang pernah gw datengin tanpa ada satu headliner yang paling gw tunggu. Satu-satunya band yang gw tunggu adalah tor, band besutan warman Nasution ini cukup membius dengan akrobatik musik funk,blues, dan rock and roll ala Jimi Hendrik.

Gue baru bisa masuk sekitar jam 5.20, setelah hectic dengan bobroknya sistem perpakiran gelanggang olahraga internasional kita. Dengan dibanderol Rp 15.000, gw mendapatkan lokasi parkir yang lumayan nyaman dan tidak terlalu jauh dari venue. Setelah melakukan prosedur awal pintu masuk, oiya patut menjadi catatan panitia! Kalau sebenarnya gue berhasil membawa masuk 5 botol air mineral ke dalam venue! Hehehehe..

Okelah tak perduli dengan masalah itu, stage yang gue datangi adalah aksinya Trisum, walaupun minus satu gitaris (Balawan). Formasi yang ‘naik panggung’ hari itu adalah Tohpati – Gitar 1, Budjana (dewa Budjana) – Gitar 2, Indro – Bassis, dan Hendry Lamusu – Violin. Secara keseluruhan aksi mereka cenderung kurang memukau, apalagi ada beberapa part yang kelihatan banget kalo duet gitaris itu kurang menemukan titik yang pas buat saling bersahutan, lalu peran Indro sebagai basis hanya sebagai penjaga beat dengan drummer. Padahal gue menunggu aksi basis itu untuk solo, tapi kurang diberikan porsi lebih banyak dibandingkan headlinersnya. Tapi secara keseluruhan ini keren, gue pernah menyaksikan konser trisum sebelumnya, tapi aksi mereka di Java Jazz 2008 kali ini merupakan salah satu yang terbaik dari mereka.

Aksi kedua yang gw tonton adalah TOR, band funk/rock n roll merupakan salah satu band independen yang sudah sangat lama ga pernah gw liat kejuntrungannya. Tapi aksi mereka cukup menyegarkan dibalik semua hingar bingar musik pop jazz ataupun festival jazz yang semakin menjaduh dari akarnya menuju pop. Membawakan beberapa track baru dan lama seperti aboy asoi. Aksi Warman sebagai frontman juga sangat komunikatif dengan becandaan dan lawakan di depan panggung. Selain itu aksi solo dari setiap personil juga bisa patut diacungi jempol sebagai band dengan konsep jam session.

Ketiga, adalah stage Raul Midon. artis yang satu ini sebenarnya merupakan salah satu faktor kenapa gw bilang JJ08 agak melenceng dari temanya. Raul Midon bisa dibilang bukan musisi Jazz tapi lebih ke musisi pop. Ditambah lagu2nya agak mirip dengan Jazon Mraz yang sedikit bergaya rock and roll/country. Walaupun gw cuma sedikit menonton aksinya, tapi sejauh ini artis yang satu ini sukses membuat penonton untuk berteriak “We Want More..!!” baru kali ini gw melihat fenomena seperti ini, sebelumnya cuma di Maliq and The Essential di JJ07. Luar Biasa..

Lalu, dari stage ini gw sempat melihat sebentar penampilan Bali Lounge, cukup memikat dari para musisi jazz ekspartriat Indonesia. Walaupun gw cuma sempat menonton beberapa lagu dan itu pun tidak tuntas. Lanjut setelah break sebentar untuk solat Maghrib gue melanjutkan band yang sangat gue tunggu penampilannya. Yaitu D’ Sound band yang lama malang melintang di dunia musik ini akhirnya bisa gw tonton juga secara live. Fuuuhh, what a nice and cool lounge jazzy tunes!

Add comment Maret 11, 2008

Kenapa lo suka musik keras??

Beberapa hari lalu, gw sempet jalan denga beberapa teman gw, memang waktu itu temen gw baru nebeng di tengah perjalanan pulang gw dari kampus. Ada beberapa ritual gw waktu baru naik mobil untuk ke suatu tujuan, mari gw beberkan di bawah ini :

  1. Setelah melakukan prosedur standar untuk naik mobil (pencet alarm, buka pintu, engaging mesin)
  2. Gw mulai mengingat-ingat apakah ada yang tertinggal. (Paling sering sih dompet, HP, ama buku atau dokumen!)
  3. Setelah yakin ga ada yang ketinggalan, gw mulai mengeluarkan mp3 player made in China gw lengkap dengan car kit buatan SONY JEPANG tentunya.
  4. Abis itu gw bandingin dulu, antara siaran radio dan playlist yang gw bawa.

Nah untuk malem tadi, pilihan gw jatuh pada playlist mp3 player. Dan karena sudah malem, gw memasang album dari Slayer. Setengah perjalanan berlalu dan tampaknya temen-temen gw pada resah, keliatan dari kaca spion gw kalau duduk mereka berasa ga tenang dan ngobrol jadi ga asik. Sampai akhirnya salah temen gw ngeluarin CD kompilasi musik-musik cinta dan dengan nekat memasukkan CD tersebut ke car deck gw. Ahhh, tidak!!
“Ki, kenapa lo dengerin musik kaya gini?” cetus salah seorang temen gw dari kursi belakang mobil. Trus setelah gw memberikan jawaban singkat. Pernyataan kembali muncul, “Aneh, padahal dari tampang lo ga mendukung untuk dengerin musik beginian! Harusnya lo tuh dengerin jazz ya ato ngga indie pop lah!”

Buset, udah mulai bawa-bawa muka nih! Setelah hampir gw turunin ditengah jalan tol. Akhirnya gw cuma bisa senyum-senyum, menyeringai tanpa alasan yang bagus untuk men counter semua hipotesa mereka.

Tapi kejadian diatas justru membuat gw berpikir! Memang kenapa dengan selera musik gw, toh hanya dengan ‘tampang’ yang ngga pas bukan berarti berpengaruh ke selera dan apresiasi musik seseorang kan? Agak geli juga sekaligus kasian dengan beberapa temen gw yang mengatakan hal itu.

Kebiasaan gw untuk dengerin musik dengan genre rock, metal, dkk bermula dari sekitar SD kelas 3, waktu itu gw rajin ngedengerin album led zeppelin dan black sabbath. My daddy responsible for this things!

Hal ini berlanjut sekitar kelas 6 an SD, waktu itu lagi ngetren genre Grunge sama speedmetal ala Helloween dan Sepultura. Gw lagi-lagi ga sengaja ditularin dari beberapa relatif yang deket. Mau ga mau gw jadi terbiasa mengdengarkan musik-musik kaya gitu. dan itu berlanjut sampai gw SMP kelas 1.

Walaupun sekitar pertengahan SMP gw mulai meniatkan diri untuk kembali ke jalan yang lebih benar. Gw coba beralih ke arah pop dan hiphop. Tapi gw jadi semakin kehilangan arah dengan dua genre musik ini, walaupun di hip hop sendiri gw bisa menemukan tokoh panutan juga. Walaupun berasa keren, tapi tetep aja rasanya ada yang kurang!

Akhirnya kelas 3 SMP gw mulai tertarik lagi musik-musik keras, gw akhirnya kembali ke jalan yang lebih gw sukai walaupun tidak melulu benar. Tren musik SKA waktu itu, bukan menjadi jalan gw. Gw lebih memilih musik punk rock dan hardcore punk.

Dan terus menerus sampai gw akhirnya SMA dan kuliah.

Lalu, kenapa dengan muka gue? terlalu lembutkah untuk seorang punker? Hahahahaha…. Biarkan Tuhan Yang Menjawabnya,

Add comment Februari 23, 2008

Bloody Music Scene…

Kekerasan dalam konser musik memang udah jadi makanan gue dalam hidup ini. Entah udah beberapa kejadian yang gue liat, mulai dari adu jotos-jotosan di dalam konser, kerusuhan, orang kejepit, sampai artisnya sendiri yang turun tangan untuk gebukin penonton!

Dan ternyata kejadian kaya gini tuh bukan hanya menjadi keprihatinan kita di Indonesia, tapi juga merupakan keprihatinan Internasional. Kalau yang lokal mungkin gue ga perlu tulis lagi, band apa saja yang sudah meminta korban jiwa. Tapi sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa konser bisa menjadi rusuh.

  1. Kesiapan pihak panitia,
  2. Kurang tanggapnya aparat
  3. Kurang siapnya atau faktor mentalitas para penonton,
  4. Gaya si artis yang terlalu memprovokasi,
  5.  Pengaruh substansi adiksi seperti alkohol dan narkotika! (tapi yang paling sering sih alkohol)

Kejadian pas launching album Beside di Bandung disebabkan oleh faktor no 1, 2, dan 5. Udah banyak temen-temen yang menuliskan bagaimana keadaan di konser waktu itu. Bahkan salah seorang temen gw pun menceritakan kalo suasana di konser itu lebih mirip tempat diskotik dangdut dibandingkan konser musik sungguhan.

“Beneran ki! Udah panas, lembab, udah gitu bau alkohol dimana-mana.. Awalnya sih gw masih bisa menikmati musik, cuma lama-lama gw jadi eneg! gejala dehidrasi gitu gue!!”

Yep, konser lain seperti konser Ungu beberapa waktu silam merupakan contoh lain. Kelalaian aparat dan panitia serta bobroknya mentalitas penonton menjadi penyebab utama jatuhnya korban disini! Mengenaskan, lha wong konser musik pop gitu kok! Bisa-bisanya jatuh korban?!

Selain itu, kita sedikit menengok dengan keadaan konser musik rock/underground di negara adidaya sana! Yap, we talking about USA.  Scene musik Punk/Hardcore merupakan scene musik terkeras yang ada di komunitas underground di Amrik. Kenapa ngga, setiap komunitas disana hampir disamakan dengan fight club pada umumnya. Para penonton sembari menikmati musik juga menikmati pukulan dan tendangan dari penonton. (Fiuhh, beruntung gw termasuk straigt edge!). Untuk lebih jelasnya kita bisa liat dan googling bagaimana deskripsi scene musik Hardcore di Amrik.

Jadi bloody music scene bukan hanya tugas buat para penonton, tapi juga banyak pihak yang terlibat disini. Hmm, mudah-mudahan kejadian semacam ini ga akan terulang lagi di Indonesia.

Hentikan Premanisme! Ubah Kultur kita!

1 comment Februari 23, 2008

Catatan Malam Tahun Baru Cina

Sekitar jam 19.00 gw udah merangsek duduk di dalam kelas yang nan dingin dan riuh karena ada 2 kelompok sedang presentasi tugas mata kuliah yang gw ikutin malem itu. Walaupun gw berusaha khidmat untuk mengejar nilai di malam itu, gw udah diresahkan banyak orang melalui SMS-SMS keparat yang masuk ke inbox Cellphone kesayangan gue.

Bunyi SMS nya ga jauh seputar keadaan Jakarta dan berita kekalahan PERSIJA di senayan malam itu. Awalnya gw berpikir, ko tumben ada orang yang perduli sama keadaan gue?! Selain Cewe dan BoNyok yang SMS-in gw untuk milih jalan yang lebih aman malam ini.

Ki, Ati-ati Jak Mania ada kemungkinan ngamuk. Soalnya persija kalah 1-0 dari Sriwijaya FC

Gue semakin garuk-garuk kepala, tumben banget!

Dan akhirnya keraguan itu dijawab penuh ketika ketumbenan itu diakhiri dengan hujan lebat. Dalam hati gue berpikir, kalau ini sebenarnya adalah pertanda bakalan hujan lebat (hehehehe….)

Tapi penderitaan akibat SMS yang meresahkan itu tidak berhenti sampai disana, selain hujan lebat yang membasahi seluruh Jakarta. Ternyata Jakarta sedang sedikit kisruh dikarenakan para pendukung PErsija di sekiataran Senayan. Jadilah gue menyetir ditengah hujan dan ditengah JAk MAnia.

Walaupun terbilang tertib dengan tidak membuat keonaran, tapi tetep aja! Tabiat buruk orang Indonesia, mereka menjadi bangga ketika melanggar aturan, terlebih lagi waktu mereka sedang bersama-sama! Heran.. melanggar aturan ko bangga sekali?! Disini keliatan banget ekspresi mereka saat mereka naik ke atas atap bus, menari-nari, dan (sori) setengah telanjang di tengah guyuran hujan!

Spirit kah? atau Kebanggaan kah? Atau Budaya premanisme yang tak tersalurkan?

1 comment Februari 7, 2008

Masih Suharto!

Hmm, sepertinya muncul masalah dilematis baru buat Alm Suharto!

Tampaknya memang ada beberapa politisi yang entahlah gue ga tau, apa memang niat mereka berasal dari dalam hati. Tapi tampaknya seminggu sudah sudah ‘the smiling general’ ini meninggal dunia, menjadi suatu opera sabun tersendiri bagi orang-orang.

Lepas dari masalah dilema mengenai hukuman yang harus diterimanya, masalah opera sabun ini sebenarnya bukan menjadi sorotan publik! Tapi terima kasih untuk beberapa teman gue yang mencoba menyoroti masalah ini dari beberapa sudut pandang kebebasan jurnalistik modern..

Yah untuk referensi mungkin, gw ada tulisan dari Dethu salah satu ‘cendekiawan’ dari Bali

Dear Kadex Jus (beserta beberapa rekan yang kurang sependapat dengan saya tentang Soeharto),
Terima kasih banyak atas tanggapannya.
Memang ada sebagian orang yang langsung syak wasangka kepada saya saat melihat sebegitu agresif bin ofensifnya saya dalam menistakan Soeharto. Dipikirnya rasa ketidaksukaan saya berlandaskan faktor subjektif: ada anggota keluarga saya dipenjarakan/ dihabisi nyawanya/dirugikan oleh si Eyang. Oh, sama sekali tidak. Intensitas punkassbitchin’ saya yang tanpa henti mendiskreditkan Soeharto semata karena saya menganggap Soeharto punya peran yang duhai sungguh ultra amat besar dalam mencederai sendi-sendi kehidupan Indonesia sampai sebegini reyot, carut marut, pingsan porak poranda. Dan saya tidak asal cuap. Referensi saya amat cukup (paling tidak jika dibandingkan dengan Anda).
Saya berani bilang bahwa informasi yang Anda dapatkan kurang akurat (dus kemungkinan besar Anda bergaul cukup rapat dengan oknum Golkar, melulu mencekoki sampeyan–serta seluruh Rakyat Indonesia–dengan info bias, pekat distorsi–persis sang mentor: Jusuf Kalla xixixixixixi. ..)
Contoh yang Anda sebut sebagai kebaikan seperti:
1. Timor Timur
Wah, dude, justru Soeharto telah merampas kemerdekaan Timor Timur dan memaksanya berintegrasi, mengakui menjadi bagian sah Republik Indonesia (dan Habibie, konon demi pamor demokratisnya, justru berjasa memberikan pilihan referendum kepada rakyat Timor Loro Sae–dan, gampang ditebak, Rakyat Timor Loro Sae memilih mandiri, lepas dari Negara Kacrut Republik Indonesia)
2. Pembebasan Irian Barat
Versi ini tidak diterima semua orang. Sebab ada yang menyebutnya “membebaskan” , ada yang menganggapnya “mengambilalih” a.k.a. “menjajah”. Lagian, Operasi Mandala ini inisiatornya adalah Soekarno. Si Begal Besar cuman komandan penyerbuan.
3. Mengusir penjajah dari DIY
Maksud Anda “Serangan Umum” 1 Maret 1949 ya? Bro, itu propaganda dari Soeharto aja untuk mengharumkan pamornya. Karena versi lain menyebutkan Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirmanlah penggagasnya. Letkol Soeharto cuman kroco yang ditugaskan memimpin serangan.
4. Tidak ada antrian minyak, tidak ada beras mahal, tidak ada kedelai mahal
Argumen ini mudah dipatahkan: justru karena kebijakan subsidi tersebutlah yang bikin Indonesia sempoyongan berantakan di masa sekarang. Proteksi berlebihan (diselingi korupsi masif) yang malah bikin Indonesia sampai hari ini tidak bisa lepas dari krisis–sementara negara-negara Asia kayak Thailand, Malaysia, dsb sudah melenggang lepas dari krisis sejak beberapa tahun silam serta sudah siap masuk ke jazirah “first world country”. Segala jargon “Bapak Pembangunan” dan kehidupan ekonomi yang (seolah) sinambung itu cuma kosmetik. Aslinya mah sangat keropos.  Soeharto (juga Soekarno) ya idem ditto: gagal total dalam manajemen ekonomi. Tapi Soekarno, diktator Indonesia pertama, masih bisa dimaafkan sebab saat itu tidaklah gampang mengelola negara miskin dengan puluhan ribu pulau, jutaan penganggur, dan sedikit orang berpendidikan.
5. Tidak ada FPI
Gaya kepemimpinan Soeharto yang mendewakan stabilitas (dengan tangan besi, lewat instrumen ganas bernama Kopkamtib) memang sanggup menjaga keamanan agar situasi selalu (sekali lagi, seolah-olah) kondusif. Tapi stabilitas (semu) yang dia jaga itu semata agar kekuasaannya langgeng. Bukan karena concern dengan nasib rakyat. Wong buktinya di kemudian hari, demi kepentingannya menjaga tampuk pemerintahan, Soeharto memprakarsai pendirian Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Ini adalah manuver doski dalam meraih simpati umat Islam (yang sebelumnya dia basmi di Tanjung Priuk). Khusus tentang FPI, well, jika memang menyebut diri negara demokrasi, FPI punya hak untuk hidup kok. Tapi ketika FPI melanggar hukum kudu harus ditindak tegas, jangan dibiarkan. Persoalan FPI ini jadi pelik ya karena pemerintah aja yang kagak tegas. Harusnya begitu bikin onar, udah, langsung sikat. But first thing first, perkara krusial kudu disepakati dulu: negara ini harus ketahuan dulu bentuknya, mau jadi Negara Agama yang notabene menempatkan agama sebagai panglima–lalu memberi kewenangan besar kepada FPI dan sejenisnya; atau Negara Republik yang menjunjung tinggi esensi demokrasi dan meminggirkan agama ke ruang privat.
6. Rakyat tidak peduli dengan kehidupan politik, yang penting negara aman
Gara-gara rakyat tidak peduli dengan politik makanya hasilnya kontra produktif: Soeharto bisa berkuasa sampai 32 tahun, bung! Benar, jika rakyat tidak mau meluangkan waktunya sedikit saja untuk politik (dus anak mudanya sibuk urusan musik melulu, forever busy with what’s cool what’s not), jangan kaget kalo tiba-tiba orang-orang yang duduk di DPR isinya bajingan semua. Kita bisanya cuman ngedumel, punkassbitchin’ doang. Rakyat harus rela mengorbankan sedikit waktunya untuk politik. Paling tidak bisa dihindarilah kejadian “membeli kucing dalam karung”. Kalo rakyat mau sebenernya bisa kok. Lihat saja SBY, itu kan dipilih oleh rakyat. Pilihan terhadap SBY itu benar atau salah, dalam konteks ini tidak penting. Yang jelas rakyat itu BISA kalo memang MAU. Buat saya sih lebih baik melek politik daripada dibohongin terus ama Golkar.
Nah, jika Anda bilang Soeharto ada jasanya, mungkin iya. Tapi super sedikit jika dibandingkan dengan timbunan tindakan laknatnya.
Coba lihat sedikit fakta sejarah apa bener di awal-awal kekuasaannya Soeharto sebegitu berjasa:
1. Perbuatan keji Soeharto sebenernya sudah dimulai bahkan sebelum dia resmi pegang kuasa yaitu–seraya membikin mati Soekarno, dengan membiarkannya tergeletak sakit, tanpa perawatan yang layak–pada tahun 1965 Soeharto membunuhi ratusan ribu orang (malah ada versi yang menyebut hingga sejuta orang) dan menuduh mereka sebagai cecunguk komunis (PKI). Oleh banyak sejarawan, sepak terjang Soeharo memusnahkan nyawa manusia secara besar-besaran ini sudah tergolong “genosida” (genocide). Sementara itu buku-buku sejarah yang lalu-lalu, atas arahan Soeharto, malah mendudukkan Soeharto sebagai sang penegak Demokrasi Pancasila. Padahal kualitas Soeharto dan jagal Serbia, Slobodan Milosevic, sama dan sebangun.
2. Di masa-masa awal pemerintahan ini Soeharto mulai menerapkan Dwifungsi ABRI. Dude, this is evil. Kaum bersenjata diberi celah bermain politik? Itu malapetaka. Sejarah telah membuktikan.
3. Juga, jangan salah, sejak tahun 1970 sudah marak demontrasi mahasiswa serta protes ilmuwan terhadap merajalelanya korupsi (dan Genderuwo bernama Tien “Ten Percent” Soeharto sudah beraksi mengusiri rakyat kecil demi projek prestisiusnya: Taman Mini Indonesia Indah). Pada tahun ini muncul yang namanya Demonstrasi Mahasiswa Menggugat, Komite Anti Korupsi serta gerakan anti-TMII. Protes-protes ini terus berlanjut sepanjang tahun 1970an seperti Golongan Putih (1971) yang menentang UU Pemilu yang baru dsb.
4. Peristiwa Malari di tahun 1974, belasan orang tewas dan ratusan orang luka-luka.
5. Tahun 1978 diterapkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) , tujuannya meredam gerakan mahasiswa.
6.  Kezalimannya berlanjut terus pada dekade 80an: mematikan kebebasan berpendapat lewat UU Pokok Pers, kejahatan terhadap kemanusiaan Petrus/Penembakan Misterius, pula Warsidi/Tragedi Talangsari, dll.
Nah, menurut Anda bagaimana? Cukup berjasa gak si Eyang Kanibal terhadap bangsa ini? Ingat, saya belum membeberkan fakta-fakta kelam yang terjadi pada tahun 90an lho. Dan data-data yang saya jajarkan di atas tadi berserakan di media massa, bukan karena saya punya obsesi spesial tentang Mbah Bajingan. Tidak subjektif. Tidak ngarang. Tidak bermaksud menyebarkan kebencian. Saya hanya mengulang menyampaikan fakta. Simple as that.
Furthermore, beberapa teman juga menyebut saya tipe yang suka menghujat, wong orang mati kok masih aja terus dibabat. Yang harus dipahami dulu adalah makna “menghujat” itu sendiri. Bagi saya, menuduh orang yang baik budi pekertinya sebagai orang jahat, nah, itu baru namanya menghujat. Sementara Soeharto kan tidak. Wong jelas-jelas PBB secara resmi menempatkannya sebagai “Diktator Paling Maling di antara para Diktator Maling” alias “Pencuri No. 1 di Dunia” kok. Anda hendak membantah kredibilitas PBB? …Mungkin terlalu naif jika saya sebut PBB selalu benar, tapi saya percaya kredibilitas PBB jelas lebih mumpuni dibanding institusi hukum macam Mahkamah Agung sekalipun (Bagir Manan? Yuuuk…).
Dan sampai hari ini saya percaya, jika memang mencintai Indonesia (saya masih, walau porsinya tinggal sedikit), untuk membebaskannya dari carut-marut kronis ini prioritasnya bukan Global Warming tapi:
1. Penjarakan Soeharto, Keluarga dan Kroninya
Sekarang Soeharto sudah mati, kejar keluarga dan kroninya. Penjarakan dan ganjar dengan hukuman seberat-beratnya. Jika pemerintah punya nyali, ini bisa jadi gerbang utama untuk memberantas korupsi. Karena Indonesia paceklik dana, untuk sementara berlakukan tebang pilih: libas dulu yang kakap yaitu Soeharto, keluarga & kroninya. Ini penting untuk shock therapy, biar rakyat tergugah terinspirasi untuk berperanserta memberantas korupsi, agar bromocorah kelas teri jadi takut melaksanakan perbuatan jahat.
2. Memajukan Pendidikan/Mengenta skan Kebodohan
Jika masyarakat pintar maka negara ini akan cepat maju, mampu segera mengatasi problem kemiskinan.
Benar, keluarga sudah cukup makan, biaya sekolah sudah lunas, punya tempat tinggal layak huni, baru deh beranjak ngurusin isu global nan krusial macam Pemanasan Semesta.
Itu saja. Semoga bisa dipahami. Trims dan jaga diri dengan baik.
Ayo Belajar,
RUDOLF DETHU

Add comment Februari 7, 2008

Next Posts Previous Posts


Klik tertinggi

Tulisan Terakhir

Halaman

Flickr Photos

Nubes de lluvia - Rain clouds - Explore ! (Front Page)

Sligachan II

blueberry frost

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.